*BERHARAP*
Suatu hari ada
seseorang yang mengangumi perempuan tetapi
perempuan yang di kagumi tidak
pernah tau bahwa ada orang yang mengagumi dia, namun tidak henti2 nya orang tersebut berusaha untuk
meyakinkan kepada perempuan tersebut bahwa hatinya benar2 kagum dengan
kefahaman agama perempuan itu.Pada akhirnya dia menanyakan kepada temanya apa
sih warna yg dia suka?.....Temanya menjawab warna yang disukai yaitu:biru
donker,hijau toscca,pink , setelah itu bergegaslah orang tersebut mencari
warna2 tersebut sampai akhirnya orang tersebut menemukan/membelikan barang yang berwarna pink,dengan percaya
diri orang itu meminta bantuan teman
perempuan tersebut untuk memberikan barang itu kepada nya(perempuan),setelah di
berikan ternyata perempuan itu tau siapa yang memberikan barang tersebut hingga
terjadilah kesalah fahaman antara orang itu dan perempuan,tujuan dia hanyalah
supaya lebih dekat eh malah membuat perempuan itu menjauh sampai2 perempuan itu
mengatakan”Kenapa Sih Orang Itu Menjadi Berubah Yang Dulunya Pendiam Malah
Sekarang Menjadi Aneh”.Mendengar seperti itu dia merasa bersalah telah membuat
perempuan itu marah, yang diharap sebelumnya
hanya membuat bahagia malah membuat marah,makanya ada pepatah mengatakan
harapan tidak sesuai dengan ke inginan,tibalah waktu dimana orang tersebut
merenungi kesalahan nya waktu demi waktu,hari demi hari dia selalu terfikir
kesalahan nya terhadap yang di kagumi (perempuan).Dia memutar otak bagaimana
cara nya supaya yang di kagumi memaafkan kesalahanya dan sampai akhirnya dia
tau bagaimana caranya meminta maaf dengan cara memberi tahu kapada teman yang
di kagumi(perempuan),ucapanya begini “Wahai Saudari Ku Sampaikan Permintaan
Maaf Ku Kepadanya” Teman menjawab: Insya allah saya sampaikan saudara ku.
Sejak itu mereka
berdua saling diam-diaman mungkin karna kejadian di atas,dalam sudut pandang,
orang tersebut menganggap tatapan
perempuan tersebut masih kesal/jengkel terhadap dia,entah kenapa pengaruh
harapan yang di alami orang itu sampai berfikir yang negative,dan ketika dengan
harapan, orang itu memandang langit seraya mengatakan “Ya Allah Apakah Ini
Karma Bagi Ku” makin sering berjumpa dengan perempuan itu makin
tampak yang dia sadari bahwa dunia sangat kecil sekali,dan betapa sedikitnya harapan
yang di ketahui manusia.Sebuah sajak John Donne yang ditulis di inggris di abad
ke-16 menggambarkan gairah (dan ketakaburan)harapan itu:
…..kita buat surga datang ke kita ,kita pacu
dan kendalikan bintang-bintang….
Tapi harapan
mengandung antitesisnya sendiri .Kepercayaan diri manusia sebenarnya tak kokoh.
Bebareng dengan kesadaran harapan,ilmu
akhirat tumbuh.Dunia makin canggih dan manusia makin tahu bahwa tidak adanya
surga dunia.Ia juga ternyata tak mengendalikan bintang-bintang.Lewat
teleskop-teleskop baru,makin sering tampak galaksi-galaksi yang tak masuk
hitungan dan makin di sadari bahwa harapan
dunia itu kecil.Berarti ketika orang yang di atas tadi dia mempunyai
harapan besar terhadap yang di kagumi(perempuan),sedangkan harapan sendiri
tidak ada yang besar kalau menurut “John Donne”.Mengapa begitu?kita merujuk
lagi tentang nikmat Allah yang telah banyak di berikan kepada kita,di dalam QS IBRAHIM
yang artinya:”seandainya kalian
menghitung nikmat Allah itu tidak akan mampu”.Berbeda dengan pemberian
orang tersebut kepada perempuan,karna pemberian seseorang bisa dihitung, besar- kecilnya pemberian
seseorang tak di tentukan oleh jaraknya dari mata kita, namun di lihat dari
ikhlasnya hati,dari sinilah manusia tau bahwa harapan itu butuh pengorbanan.
Dengan kata
lain: dari” jendela Alberti”manusia tak dapat sekaligus melihat sebuah ruang
seluruhnya.Di saat itulah ia mengenal kedaifan dirinya,berharap yang tak
terhingga.Berharap yang tak terhingga menurut saya kurang realistis,bahkan
cenderung mempengaruhi pola fikir seseorang dan ada tiga tanda orang yang
selalu berharap tinggi:
1.Melamun
2.Berangan-angan
3.Dengki
(iri hati).
Akhir dari cerita di atas orang yang berharap maaf kepada perempuan
tersebut,sudah di maaf kan namun tidak lah sampai di situ orang itu diam,dia
berusaha tetap ingin menjadi orang yang mengagumi tanpa di kasihi.Tak ada satu pusat,tak ada
batasan yang mantab.Mungkin itulah awal kebingungan manusia,mungkin itu momen religiusnya,mungkin
pula pangkal kemerdekaan berpikirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar